JAKARTA — Aktivitas diplomasi Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kembali menjadi sorotan publik. Hingga Mei 2026, Presiden Prabowo tercatat telah melakukan lebih dari 49 lawatan luar negeri ke puluhan negara sejak menjabat sebagai kepala negara.
Berdasarkan berbagai catatan media dan data publik, total waktu yang dihabiskan Presiden Prabowo di luar negeri diperkirakan mencapai hampir 100 hari atau lebih dari tiga bulan. Angka tersebut memunculkan kritik dan pertanyaan dari sebagian masyarakat mengenai efektivitas kepemimpinan nasional ketika presiden lebih sering berada di luar negeri dibanding di dalam negeri.
Sejumlah pengamat menilai diplomasi internasional memang penting untuk memperkuat posisi Indonesia di mata dunia. Namun di sisi lain, banyak pihak mempertanyakan hasil konkret dari intensitas kunjungan tersebut.
“Indonesia seperti tidak dipimpin presiden selama hampir 100 hari,” ujar salah satu kritik yang ramai muncul di media sosial. Kritik tersebut muncul di tengah berbagai persoalan domestik seperti kondisi ekonomi masyarakat, harga kebutuhan pokok, pengangguran, hingga persoalan daerah yang dinilai membutuhkan perhatian langsung pemerintah pusat.
Lawatan Presiden Prabowo diketahui mencakup berbagai agenda strategis, mulai dari kerja sama pertahanan, investasi, energi, hingga hubungan bilateral. Dalam kurun sekitar satu setengah tahun pemerintahan, beliau telah mengunjungi sedikitnya 28 negara.
Pada akhir Mei 2026, Presiden Prabowo kembali melakukan kunjungan kerja ke Prancis atas undangan Presiden Emmanuel Macron. Kunjungan tersebut menjadi sorotan karena berlangsung berdekatan dengan momentum Hari Raya Idul Adha.
Meski pemerintah menyebut lawatan luar negeri sebagai bagian penting dari diplomasi aktif Indonesia, kritik publik terus bermunculan. Sebagian masyarakat mempertanyakan apakah frekuensi perjalanan tersebut benar-benar memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan rakyat.
Di sisi lain, pendukung pemerintah menilai Presiden Prabowo tengah membangun posisi strategis Indonesia di tengah dinamika geopolitik dunia yang semakin kompleks. Mereka beranggapan hubungan internasional yang kuat dapat membuka peluang investasi dan kerja sama jangka panjang bagi Indonesia.
Perdebatan mengenai intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo pun diperkirakan masih akan terus berlangsung, terutama ketika masyarakat menunggu hasil nyata yang dapat dirasakan secara langsung di dalam negeri.

Post a Comment
Jangan Lupa untuk selalu komen di blog yunusst